Jumat, 25 Mei 2012

KETERKAITAN DUNIA INDUSTRI (DEMO BURUH)
DENGAN ISU KENAIKAN BBM


Menjelang akhir bulan Maret 2012 yang lalu, masyarakat Indonesia bersiap siaga dengan kebijakan pemerintah yang akan dikeluarkan secara resmi dan otomatis mempengaruhi kehidupan hajat hidup orang banyak. BBM (Bahan Bakar Minyak) naik mulai 1 April 2012! Skenario kenaikan harga BBM ini ditetapkan antara Rp1.000 dan Rp1.500 per liter, dengan demikian harga BBM di pasaran akan menjadi Rp6.000.
Penetapan rencana kenaikan BBM ini didasarkan pada asumsi harga minyak acuan Indonesia (ICP) APBN 2012 sebesar USD90 per barel yang tidak lagi relevan, akibat kenaikan harga minyak mentah dunia yang semakin melonjak. Dalam laporan terbarunya, kontrak berjangka utama di New York mencatat kenaikan minyak mentah ditutup pada posisi USD105,11 per barel sementara di bursa London, minyak mentah ditutup dengan harga USD123,55 per barel. Karenanya pemerintah mengalami defisit APBN hingga 3,6% akibat besarnya subsidi pemerintah sebagai dampak dari kenaikan harga minyak mentah dunia.
Tentunya kebijakan yang tak populis ini mendapat banyak reaksi dari berbagai elemen masyarakat. Mulai dari mahasiswa yang sudah mulai turun ke jalan-jalan di sejumlah daerah, berdemo meneriakkan suara penolakan kebijakan yang saat ini masih dibahas alot di ruang sidang DPR hingga membakar  foto presiden. Aksi protes juga sudah mulai muncul dari kalangan  ibu rumah tangga yang merasa terancam asap dapur keluarganya akibat harga sembako yang turut melonjak. Tidak kalah seru, ancaman demo buruh yang akan turun ke jalan dan menyegel seluruh SPBU pada 1 April 2012. Belum lagi nelayan, pengusaha angkutan massal, pengguna kendaraan pribadi, wirausaha, dan masih banyak lagi sektor-sektor industri yang mendapat imbas dari kenaikan BBM. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana mengatasi daya beli masyarakat dengan adanya beban kenaikan tersebut? Dan bagaimana antisipasi pemerintah menghadapi aksi massa yang mengancam stabilitas keamanan jika kebijakan kenaikan BBM ini benar-benar terealisasi?
Ancaman demo massa besar-besaran menjelang kenaikan BBM sebenarnya bukan pertamakali dialami pemerintah. Sepanjang pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono mulai 2004 hingga saat ini, Indonesia mengalami dua kali periode kenaikan BBM. Pertama kali kenaikan BBM terjadi pada Oktober 2005 dan kedua terjadi pada Mei 2008. Bahkan sepanjang 2008, kenaikan BBM terjadi hingga tiga kali. Meski mengalami masa transisi harga yang cukup sulit, perubahan harga BBM tersebut akhirnya tetap dilaksanakan dan diikuti oleh seluruh rakyat Indonesia. Ada klaim jika kebijakan tersebut relatif lancar karena adanya skema kompensasi Bantuan Tunai Langsung (BLT) yang dihadapi dengan euphoria warga hingga ke pelosok-pelosok desa.
            Sektor industri sangat merasakan imbas dari kenaikan BBM ini. Kenaikan BBM membuat buruh-buruh dari berbagai daerah melakukan demo, karena mereka akan sangat merasakan dampaknya. Demo-demo banyak dilakukan oleh para buruh, ada yang demo ke gedung DPR RI, ada yang memblok pintu tol di bekasi, dan masih banyak aksi para buruh yang demo untuk menyuarakan aspirasinya. Tentunya kenaikan BBM ini sangat tidak disukai sebagian besar rakyat Indonesia karena dampaknya yang begitu besar.